Senin, Agustus 03, 2009

Keputusan

Sebelum seseorang mengambil keputusan, berbagai pertimbangan telah diperhitungkannya dengan baik. Kemungkinan baik dan buruk yang akan terjadi nampak terukur dan dipergunakan sebagai bahan untuk memilih tindakan apa yang akan diambil. Tindakan itu adalah sebuah keputusan.

Begitu seseorang telah mengambil keputusan, maka berarti ia sudah siap mengambil resiko apapun yang akan dihadapinya. Jika keputusan yang telah diambilnya itu berhubungan dengan orang lain, berarti sebelumnya ia telah membuat agreement dengan mereka. Agreement itu bisa berupa written agreement atau gentle agreement. Bagi orang yang lurus, kedua agreement itu sama-sama bersifat mengikat.

Pada saat pelaksanaan keputusan itulah seseorang akan dinilai sejauh mana konsistensinya terhadap komitmen yang telah diambilnya. Ketika ia menghadapi resiko yang menguntungkan biasanya ia tetap konsisten pada keputusannya. Tetapi ketika resiko merugikan yang dihadapinya, maka ia cenderung untuk mengkhianati agreement-nya.

Pada kondisi seperti itu ia cenderung untuk melarikan diri dari resiko yang dulu pernah dengan gagah dan lantang akan dihadapinya. Tetapi mengapa ia harus memilih kalah dan berkhianat? Bukankah semestinya siap menghadapinya untuk mencari jalan keluarnya?

Manusia kreatif akan selalu berusaha untuk mencari alternatif solusi. Dan ia akan menemukan banyak alternatif. Akhirnya ia mendapatkan kebahagiaan atas prestasinya, yang didapatkan dengan kebesaran hati untuk tetap konsisten (istiqamah) dalam agreement yang telah dengan sadar diambilnya.

Semoga berbahagia orang-orang yang seperti ini. Amin.


Tidak ada komentar:

About "Quality First"

“Quality First” is a term that is not excessive. Because, if we get something, of course we want the best quality. Indirectly we want others provide the best quality for us. So, why do we tend not to give the best quality for the others?

"Quality First" adalah suatu istilah yang tidak berlebihan. Sebab, jika kita mendapatkan sesuatu, tentu kita menginginkan kualitas yang terbaik. Secara tidak langsung kita menuntut pihak lain memberikan kualitas yang terbaik untuk kita. Maka, mengapa kita cenderung tidak memberikan kualitas yang terbaik untuk pihak lain?